Showing posts with label opini. Show all posts
Showing posts with label opini. Show all posts

Thursday, August 25, 2011

Damn! I love Habibie so much

Inspirator needy.
Saya memang seseorang yang terlalu naif dalam memandang segala sesuatu. Saya terlalu memaksakan untuk bertingkah, beropini, bergaya, bahkan menapak tilasi sosok yang pernah saya jadikan inspirator bagi hidup saya, mulai dari jenjang pendidikan, karier, dll. Mungkin ini adalah sebuah kesalahan, bangga menjadi follower only, yang tidak atau belum bisa mencetak sejarahnya secara orisinil, atau hanya menjadi penikmat sebuah keindahan, tanpa sekalipun menjadi bagian dari keindahan itu sendiri. Inspirator yang saya miliki, bahkan sejak SMP sekalipun, telah mengubah jalan hidup saya. Ehm, lebih tepatnya, mereka telah menghidupkan semangat juang saya dalam mencari dimana passion hidup saya yang sebenarnya. 

Tokoh satu ini adalah the most inspiring person whole of my life story. Dia adalah (sebut merek aja ya), Prof. DR (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie. Ketika meng copy-paste kan namanya dari sebuah sumber, saya merinding. Ya, dia adalah Habibie. Presiden ke-3 Indonesia selama 1,4 tahun dan 2 bulan menjadi Wakil Presiden RI ke-7. Dimasa kecil, Habibie telah menunjukkan kecerdasan dan semangat tinggi pada ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya Fisika. Selama enam bulan, ia kuliah di Teknik Mesin ITB, dan dilanjutkan ke Rhenisch Wesfalische Tehnische Hochscule (RWTH) – Jerman pada 1955.

Lebih dari perjalanan hidupnya yang panjang, penuh dengan teorema yang sepertinya hanya orang-orang 'sakti' seperti Habibie saja yang memilikinya, Habibie dengan tulisannya mampu membius saya tentang definisi cinta, hidup dan semangat nasionalisme di atas level kewajaran. Melalui buku-bukunya yang tidak pernah saya lewatkan, bahasa nya jauh lebih mudah saya terima dan itu berfilosofi. Santun, romantis, dan blak blakan. Ya, Habibie menebarkan virus-virus cinta. Kepatutannya sebagai makhluk yang selalu hidup dengan nilai-nilai kesyukuran, membuatnya dekat dengan Tuhan. Islami, cerdas, santun dan berjiwa pemimpin, lengkap sekali.  Sebutan cendekiawan menjadikannya kian lekat dengan kecintaannya pada Indonesia yang tidak sekalipun membutakan makna solider dan berbagi, interaksi yang harmonis dengan bangsa lainnya, melalui  sains dan teknologi. Sinaran perdamaian yang muncul bersama auranya yang tenang dan melegakan, membuat saya kian terpukau, melebihi sebegitu tertariknya pria-pria ganteng yang tersebar di muka bumi. Hehe. Sebagai teknokrat sejati, bapak Teknologi dan Demokrasi, Habibie memiliki aspek yang saya ingin napak tilasi. Mulai dari jenjang perkuliahan, master, doktoral, suatu saat nanti, Jerman insya Allah :) Semoga mimpi yang semakin menjerat ini, perlahan membuahkan sebuah definisi : nyata. Amin






Alhamdulillah sekali, terima kasih untuk Tante Intan yang juga sedang berada di Aachen sana atas janjinya memberi sebuah buku lengkap dengan tandatangan Habibie. It will so-so-so meaningful. Haha :)

Wednesday, June 29, 2011

TKI oh TKI, Riwayatmu Kini

Perhatian saya beberapa minggu ini tertuju pada sebuah pemberitaan panas tentang nasib beberapa TKI, khususnya TKW yang menjadi bulan-bulanan peradilan atas kasus pembunuhan. Apalagi ditambah kenyataan yang sangat pahit, satu diantara mereka sudah dihukum pancung oleh peradilan Arab Saudi tanpa ada pemberitahuan, baik secara resmi kepada pemerintah RI atau minimal keluarga korban sendiri. Bangsa Arab yang terkenal sadis (ini berdasar kenyataan) menambah kisah kelam terhadap pandangan dunia mengenai Islam. Mungkin itu hanya oknum, tapi yang jelas saya sangat menyayangkan perbuatan tidak berperikemanusiaan itu. Seperti kita tahu, banyak sekali TKI-TKI yang terkatung-katung nasibnya akibat ketidakadilan peradilan negara setempat. Apalagi takdir menambah sesal di hati mereka, ketika pemerintah tempat di mana mereka tumbuh dan berkontribusi, sama sekali tidak memberi perhatian khususnya kepada TKI yang ‘bermasalah’ ini. Mungkin hanya di sini, di Indonesia. 

Sedikit fakta negara kita, tidak setuju? Abaikan!

Kini, negara sudah tidak sanggup lagi memberi sumber penghidupan bagi mereka  yang serba kekurangan, minimnya lapangan pekerjaan, monopoli perusahaan asing yang mayoritas juga mengambil tenaga kerja asing, menjadi negara eksportir yang sukses dengan ratusan ribu penduduknya yang terpaksa mencari sumber-sumber penghidupan di tempat lain, yang jauh dari keluarga dan tanah airnya, yang jauh dari kata ‘terhormat’, yang merasa terbuang dan terhina. Bangga dengan devisa yang begitu besar, bersumber dari jerih payah para TKI nya lalu tidak diketahui jluntrungan penyalurannya. Masuk kantong para penguasa, bagaimana dengan yang lain? Terseok-seok hidupnya akibat krisis yang sedemikian kompleks dalam hidup.

Lagi-lagi, sudah tidak terurus di negeri sendiri, terbuang dan harus mengorbankan harga dirinya bekerja di negeri orang yang sangat rawan dihadapkan masalah : kekerasan, pembunuhan, ketidakadilan, tidak keberperikemanusiaan, eh sang penguasa yang rata-rata orang rakus harta dunia membuang muka dan seakan tidak peduli terhadap kelangsungan hidup para TKI di negeri sana. Mereka benar-benar dilepas dari kontrol pemerintah sendiri. Anda bisa menghitung berapa banyak para TKI yang terlilit masalah hukum dan pemerintah baru tahu ketika mereka  benar-benar sudah diketok palu akan hukuman yang diganjarkan. Pemerintah sih tenang-tenang saja, mereka hanya bisa berkata "Kami baru tahu!" Hello, mengapa kami yang harus aktif memberi tahu Anda-Anda ini Pak! Darimana saja kemarin? Ada juga kasus para TKI yang sulit sekali dijamah bantuan hukum dari ‘orang sendiri’, dan mereka harus menghadapi peradilan sendiri karena biaya akal persoalannya. Mau tahu yang lain? Berapa banyak TKI yang harus mendekam berlama-lama di penjara sedangkan mereka sama sekali tidak bersalah atau malah menjadi korban dari masalah tersebut dan justru dijadikan kambing hitam oleh si tersangka dan oknum peradilan itu sendiri? 

Ada banyak kasus yang menghadapkan kita pada kenyataan besar bahwa TKI seolah-olah dijadikan sapi perahnya pemerintah untuk menggali devisa sedalam-dalamnya. Lebih dari itu, julukan bangsa babu juga setuju atau tidak setuju memang nyata adanya. Bukannya nasionalisme saya yang luntur, tapi ini didasari kacamata seorang 17 tahun dan mungkin saja ini salah. Bayangkan, berapa banyak perusahaan-perusahaan asing dengan begitu besar modal nya di Indonesia, tumbuh subur berbekal modal ‘babu-babu’nya yang asli Indonesia. Mereka mengeruk sumber daya, bukan hanya itu. Mereka juga menyedot begitu besar potensi dan kepercayaan diri bangsa Indonesia untuk maju dan menyaingi mereka. Kita hanya didoktrin untuk menjadi 'pekerja-pekerja-pekerja, babu-babu-babu' dan akibatnya ya ini, kita jadi bangsa yang semakin terbelakang. Mengelak?