Showing posts with label wise. Show all posts
Showing posts with label wise. Show all posts

Tuesday, October 4, 2011

A (wish-to-be-heard) letter to God

Tuhan, jikalau lisan ini tak sanggup memujiMu dalam sebaris doa, maafkan. Biarkan tangan ini yang bergerak dengan sendirinya, menuliskan begitu banyak hal yang ingin aku syukuri kepadaMu. Biarkan otak ini berputar keras, mencari kata-kata yang indah untuk Engkau baca kemudian. Biarkan hati ini menjadi basah, karena dengan mengingatmu, bongkahan keangkuhanku luruh, dan tak bersisa. Maafkan bila raga ini tak terjaga, dari dosa dan amarah. Dari nafsu dan keingkaran. Dari noda hitam nan pekat dari sebuah kesalahan, dari sebuah rongga yang gelap yang bernama : kehampaan.
***
Biarkan aku melukiskan tanda kecintaanku padaMu, kepada mereka, kepada dia, kepada semuanya yang telah berhias keindahan. Dan kepada diri ini, yang masih menangisi dirinya sendiri, untuk sebuah penyesalan. Kesyukuran yang aku sampaikan ini, biarlah menjadi pengawal pagi di bawah atap sinaran sang matahari.
 ***
Allah, tumbuhkanlah aku dalam Iman dan Islam, dalam kesyukuran, dalam keikhlasan, dalam kelapangan, dan dalam sebuah kedekatan, karena dengan bersamaMu, jiwa ini menjadi tenang dan sanggup melewati jalanan yang mustahil aku lewati sendirian.

Monday, September 12, 2011

Peringatan

Berada di sebuah kamar yang sempit, penuh dengan barang-barang yang seharusnya tidak berada di sini. Langit tampak mendung, sekalipun saya tidak terlalu yakin hujan akan datang sore atau malam ini. Ditemani kipas angin yang selalu setia dua puluh empat jam non stop untuk mengusir hawa panas, sepanas kota Surabaya siang ini. Ya, ini hariku. Bagaimana denganmu?

Sedikit bercerita tentang pengalaman diperingatkan Tuhan dengan cara-cara yang tidak terduga. Selalu saja disesali di akhir cerita. Mengapa aku mengabaikannya? Mengapa aku lupa? Mengapa aku terlena? Astagfirullah. Beberapa hari yang lalu, sebuah kisah tentang hampir saja kehilangan kunci sepeda motor di sebuah swalayan dekat Asrama. Bersama Ulvi, teman satu asrama yang orangnya sangat easy-going, kita berangkat menuju swalayan tersebut dengan motor saya. Berniat membeli flashdisk, hingga keperluan harian yang sebenarnya belum diperlukan. Satu lagi, makanan ringan pengantar tidur malam, bukan. Pengantar kerja rodi semalaman tepatnya.

Kami yang tidak berniat berlama-lama berbelanja, malah kebablasan berada di tempat tersebut. Kami terlalu asik mencari-cari sesuatu yang eye catching, dirasa perlu untuk keperluan harian, sampai menyusuri setiap lorong yang kanan kirinya penuh barang berpromosi harga murah. Tidak terasa adzan maghrib berkumandang. Tanpa disengaja, ketika adzan berkumandang dengan keras (yang kebetulan ada masjid di dekat swalayan), saya berucap : Yah....Adzan. Seakan-akan saya menolak dan menyesal dengan kumandang adzan yang terlalu cepat dan berkesimpulan menyuruh kami untuk secepatnya pulang. Saya merasa berdosa, namun menganggap itu hanyalah sebuah ketidaksengajaan. Mengingat mood belanja kami masih oke, dengan berbangga hati, kami mengabaikan perintah itu. 

Setelah asik berbelanja hal-hal di luar rencana awal, akhirnya kami memutuskan pulang, mengingat malam sudah menyergap dan kewajiban utama belum ditunaikan. Kami segera pulang. Tiba-tiba, kunci motor tidak pada tempatnya. Tas? Dompet? Kresek? Tidak satupun terdapat kunci motor saya disana. Ya Allah, dimana kunci itu? Belum lagi, waktu mengejar kita karena sebentar lagi sudah memasuki waktu Isya', artinya haruskah kami absen sholat Maghrib lalu mencari kunci motor tersebut? Atau menyerah, menyegerakan sholat, kemudian mencarinya lagi? Astagfirullah. Kami semua kalut, deg-degan, takut jikalau kunci itu terselempet, jatuh, atau diambil orang. Artinya, kami pulang jalan kaki sementara motor saya titipkan di swalayan tersebut sampai rentang waktu yang tidak ditentukan? Menelepon orang tua, menyuruh mereka mengirimkan kunci serep yang harus secepatnya ada? Saya dan Ulvi, jujur menyesal mengapa harus berlama-lama berbelanja, sementara menunda waktu sholat yang seharusnya utama dilaksanakan tepat waktu. Lagi-lagi, kami hanya bisa menyesal.

Saya yang mengeluarkan keringat dingin karena kalut, jujur ingin menangis sewaktu mencari kunci tersebut, hanya berharap di dalam hati, "Ya Allah maaf kan saya yang mengabaikan suara penyeruMu untuk melaksanakan sholat. Mohon kunci tersebut segera saya temukan, sehingga saya masih memiliki kesempatan untuk sholat Maghrib dan memohon ampun kepadaMu."

Alhamdulillah, ternyata doa saya dikabulkan. Mungkin bukan dikabulkan, tapi dibukakan kesempatan untuk segera pulang lalu menunaikan kewajiban. Ternyata, selidik punya selidik, saya lupa mengambil kunci motor. Alhasil kunci motor saya masih tertancap. Untuk mengamankannya, satpam pun bertindak. Beliau yang menyimpannya. Baik sekali. Terima kasih Allah, terima kasih Pak Satpam. Hehehe

Betapa Allah dengan segala penciptaanNya bisa memperingatkan manusia dengan berbagai cara. Kita dihadirkan dua pilihan, menjadi hamba Tuhan yang setia dan disiplin melaksanakan janji  yang telah di khaul kan bahkan sejak kita berada dalam kandungan, untuk berpegang teguh pada Islam? Atau mengabaikan apa yang sesungguhnya kita pernah sumpahkan sebelumnya? Mana yang kau pilih? Menunggu Tuhan memperingatkanmu agar tidak berlama-lama dalam kesesatan? Atau bersegera memohon ampun dan memperbaiki kualitas diri dalam mencari ridho Illahi?

Monday, July 11, 2011

Q-mark

Berkaca pada kehidupan manusia yang dipenuhi dengan ambisi dan egoisitas tinggi, Tuhan memang Maha Adil untuk memberi kita cara untuk berkesempatan menikmati hidup yang singkat ini, cukup dengan sebuah tanda tanya dalam hidup. Kita selalu bertanya-tanya apa yang akan terjadi sekarang, nanti, esok, dan selamanya. Kita tidak pernah tahu. Kita hanya diberi secuil kemampuan bertahan hidup, bermula dari tanda tanya tersebut. Sesungguhnya apa tanda tanya itu? Mengapa hanya itu?
Tanda tanya adalah sebuah ketidakpastian. Ia bersifat ambigu, netral, dan tidak memiliki kekuatan untuk memutus. Boleh dibilang tanda tanya itu adalah sebuah kelemahan. Pernahkah kalian mendengar, tanda tanya itu bersifat layaknya tanda seru yang identik dengan sesuatu yang pasti, jelas dan nyata? Tanda tanya bagi manusia adalah sebuah hak. Sengaja Tuhan tidak memberi kuasa penuh dalam diri kita untuk mengatur, mengubah, menentukan baik buruk nya hidup kita. Kita cuma diporsikan untuk : menunggu, mengharap, dan berharap-harap cemas. Segalanya pada manusia cukup dengan : mungkinkah, mungkinkah, mungkinkah.
Bisa dibayangkan, ketika Tuhan juga menganugrahkan kemampuan kepada kita untuk menentukan apa yang terjadi pada hidup. Didasari sifat manusia yang tidak pernah puas dan hanya dilingkupi nafsu semata, kita yang selalu lemah ketika dihadapkan dengan bisikan setan untuk menjerumuskan, kemampuan tersebut pastilah akan dipergunakan tidak semestinya. Kita bisa dengan mudahnya menjadikan kaya, tanpa sedikitpun berusaha. Kita bisa dengan bimsalabim menentukan ini, itu, tanpa sedikitpun berpikir apakah itu baik atau buruk di masa mendatang.  Kita bisa bertindak melebih dari Tuhan kita sendiri.
Terlepas dari kenyataan bahwa manusia juga memiliki sikap optimisme yang tinggi, namun sesungguhnya sikap tersebut adalah pelarian secara psikis untuk menolak sebuah pertanyaan, atau tanda tanya itu sendiri. Mereka beroptimis, berarti bersikap berbaik sangka pada Tuhan, berbaik sangka kepada tanda tanya nya, karena mereka tengah berharap sebuah kejaiban terjadi dalam dirinya. Mereka takut sebuah tanda tanya itu merebut kontrol pada diri sendiri, sehingga perasaan kalut, minder, ketakutan yang tak berkesudahan yang akhirnya akan merugikan diri mereka sendiri.
Dengan nasib tersebut, kita bisa memaknai hidup dengan beraneka cara. Banyak yang kita bisa lakukan dengan tanda tanya tersebut. Kita dilatih untuk bersabar dan berusaha, sebelum nantinya Tuhan berkata 'itu baik untuk kamu atau itu buruk untuk kamu'. Kita akan lebih menghidupi hidup ini dengan kesyukuran. Kita akan menjadi manusia pemimpi nomor satu, karena bermula dari mimpi itu kita akan lebih merasa hidup. Kita akan menjadi manusia pengharap, sekalipun ketidakpastian akan hadir mengadang. 
Ya, tanda tanya akan selalu hadir dalam setiap sisi hidup kita. Percaya Tuhan selalu berbaik hati pada kita adalah kuncinya.